Berbagi Ilmu seputar Kesahatan Anak Pra Sekolah
Postingan Populer
-
Perkembangan Kognitif (Menurut Piaget) Menurut Piaget, perkembangan kognitif anak usia pra sekolah menurut Piaget masih masuk pada tahap pr...
-
Hi bunda, bagaimana kabarnya hari ini? Perkenalkan nama saya Maylinda saya seorang bidan , ini adalah blog kesehatan pertama saya. Di ...
-
Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memberi penyuluhan kepada anak-anak TK ABA 48 Semarang agar memiliki cuci tangan yang sehat dan ber...
Postingan Terbaru
Kamis, 20 Januari 2022
Pembiasaan Cuci Tangan yang Baik dan Benar pada Siswa Taman Kanak-Kanak (TK) di Semarang
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk
memberi penyuluhan kepada anak-anak TK ABA 48 Semarang agar memiliki cuci
tangan yang sehat dan bersih. Metode yang dilakukan melalui (1)
penyuluhan/ceramah, (2) video pembelajaran, (3) praktik langsung. Responden
sebanyak 23 anak. Didapatkan hasil 74,0% bahwa anak-anak tidak terbiasa cuci
tangan sesuai protokol kesehatan dan 26 % yang sesuai standar kesehatan. Setelah
dilakukan penyuluhan dengan tiga metode terdapat perubahan pengetahuan dan
sikap dalam mencuci tangan yakni yang semula 26 % meningkat menjadi 56,5%.
Kesimpulannya, pembiasaan mencuci tangan sesuai standar WHO dapat berhasil
dengan jika melalui tiga langkah, cermah, alat bantu pembelajaran audio visual
dan praktik langsung dengan air mengalir. Kata kunci: hidup bersih dan sehat,
cuci tangan yang benar, penyuluhan, audio visual, air mengalir.
Sejak dunia dihebohkan dengan
munculnya wabah covid-19 yang berawal dari Wuhan China pada Desember 2019,
hingga kini virus ini masih menjadi pandemi global. Menurut Badan Kesehatan
Dunia (WHO) Secara statistik per 17 Mei 2020 terdapat 4.535.731 (empat juta
lima ratus tiga puluh lima ribu tujuh ratus tiga puluh satu) kasus positif
Covid-19 dan sebanyak 307.537 (tiga ratus ribu lima ratustiga puluh tujuh)
meninggal dunia di seluruh dunia (www.covid19.who.int) . Ini menandakan bahwa
penyebaran virus corona ini merupakan pandemi global yang amat masif. Kini
semua orang tertuju pada upaya pencegahan dari terjangkitnya virus yang hingga
kini belum ada anti-virusnya. Salah satu strateginya adalah adalah dengan
mencuci tangan sesuai aturan kesehatan berdasarkan protokol WHO.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 3 Tahun 2014 (2014: 4) mencuci tangan yang benar adalah salah satu unsur dari tiga pilar pembangunan Indonesia bidang kesehatan yakni berpola hidup sehat. Sedangkan pilar yang lain adalah pengkondisian lingkungan sehat serta penyediaan layanan kesehatan yang representatif dan terjangkau semua kalangan. Ihtiar untuk mensosialisasikan bagaimana tata cara agar anak-anak didik pada sekolah TK gemar membersihkan tangan adalah sebuah langkah yang amat penting. Menurut Megawati, dkk (2018: 40) pada usia ini, anak-anak belum terbentuk system imun dengan baik sehingga mudah tertular penyakit. Langkah kongkrit dari usaha ini adalah berupa penyuluhan atau pemberian informasi pengetahuan (transfer of knowledge), pembiasaan yang baik (good habit) sejak dini disertai pendampingan atau praktik langsung dengan video pembelajaran. Langkah ini adalah sebuah keniscayaan guna menghadang agar covid-19 tak makin meluas. Tujuan yang ingin dicapai dari penyuluhan cuci tangan yang baik dan benar ini adalah para siswa Taman Kanakkanak (TK) dapat memahami tata cara, dan dapat mempraktikkan bagaimana cuci tangan yang baik dan benar. Diharapkan setelah pelaksanaan dari program di atas adalah terdapat perubahan perilaku di masyarakat, utamanya siswa-siwi agar mereka gemar mencuci tangan sesering mungkin dengan baik dan benar. Sebagaimana telah menjadi pengetahuan umum (well-known) tangan adalah anggota badan yang kerap membawa dan menularkan bibit penyakit. Bahkan penyebaran covid-19 ini juga salah satunya melalui tangan. Jika terkontaminasi dengan penderita, maka tangan yang telah terkontaminasi akan menyentuh hidung, mata dan mulut. Dari tiga aera ini, maka covid-19 akan masuk ke organ paru dan kemudian virus akan merusak sistem paru yang pada akhirnya membuat seseorang sesak nafas dan jika system imun nya rendah, maka akan menyebabkan gagal pernafasan. (www.alodokter.com). Mencuci tangan dengan sabun menurut WHO adalah cara yang tepat sesuai kesehatan (www.who.int) , hal ini menurut Riris (2009: 2-3) karena sabun dapat membunuh kuman atau virus yang menempel di tangan. Maka usaha yang paling sederhana untuk menegakkan pilar hidup sehat adalah dengan gemar cuci tangan. Usaha yang oleh masyarakat dianggap sepele ini ternyata dapat ber kontribusi penting pada upaya pencegehan covid-19 (Ibrahim, dkk, 2020: 192). Tangan adalah bagian tubuh kita yang paling banyak tercemar kotoran dan bibit penyakit. Ketika memegang sesuatu, dan berjabat tangan, tentu ada bibit penyakit yang melekat pada kulit tangan kita. Telur cacing, virus, kuman dan parasit yang mencemari tangan, akan menpel pada orang lain yang kita ajak berjabat tangan atau bahkan saat kita makan dengan tangan yang tidak bersih, kotoran tertelan dan sudah barang tentu akan menggangu pencernaan. (Retno dkk, 2013: 123). Selain bertransmisi melalui tangan, kotoran, penyakit serta virus pada umumnya juga dapat melekat pada barangbarang lain seperti gagang pintu, uang, alatalat makan, juga permainan. Ketika alat-alat tadi dipegang dan kemudian tangan tidak dibersihakn maka akan sangat mungkin kita dapat tertular penyakit termasuk virus. (Kushartanti, 2012: 2-3). Maka mencuci tangan dengan benar dan sesuai kesehatan amatlah penting agar jenis virus dan penyakit tidak masuk ke dalam tubuh manusia.
Metode
Penelitian ini dilaksanakan dengan metode penyuluhan atau ceramah serta praktik dengan air mengalir. Dilaksanakan pada tanggal 9 Desember 2019 dan berlokasi di TK ABA 48 Semarang. Evaluasi juga dilakukan untuk mengukur tingkat pengetahuan dan efektifitas dari metode yang dipergunakan. Cara yang dipakai adalah berupa pemberian pertanyaan secara lisan dengan model tertutup. Teknisnya responden diberi pertanyaan sebanyak dua kali yakni sebelum dan sesudah penyuluhan berlangsung seputar pengetahuan tentang tata cara mencuci tangan sebagaimana standar WHO. Dari sinilah dapat disimpulkan apakah penyuluhan ini memiliki dampak signifikan atau tidak. Guna meningkatkan efektifitas dan daya akurasi, penyuluhan juga mempergunakan media pembelajaran audio visual tentang prosedur cuci tangan yang sehat. Penggunaan media audio visual menurut Asmara (2015) akan membuat pembelajaran lebih berhasil bila dibandingkan dengan tidak menggunakan audio visual Senada dengan Hamdani, Cheppy Riyana (2007: 8-11) juga berpendapat sama bahwa bahwa strategsinya video pembelajaran karena berisi pengetahuan yang cukup lengkap dan mudah untuk dicerna peserta didik. Pada proses penyuluhan dan praktik, peserta yang terdiri dari para anakanak TK ini akan dituntun untuk mempraktiktikkan 6 (enam) langkah cuci tangan yang baik dan benar menurut WHO. Langkah dimaksud adalah pertama telapak tangan digosok dengan sabun, kedua menggosok punggung telapak tangan secara bergantian kanan dan kiri, ketiga mensela-selai jari jemari juga dengan sabun, keempat ujung jari dicuci dengan bersih, kelima menggosok dan memutar ibu jari secara bergantian, dan yang keenam adalah letakkan semua ujung jari pada telapak tangan dan bersihkan dengan digosok secara perlahan menggunakan air mengalir. (www.who.int).
Penyuluhan ini dilakukan di TK ABA 48 yang terletak di Jl. Zebra Tengah No.74, Pedurungan Kidul, Kec. Pedurungan, Kota Semarang. TK ini terbagi dalam dua kelas yaitu TK 0 besar yang terdiri dari kelas A dan B, dan TK 0 kecil yang terdiri dari Kelas A dan B. Pada penyuluhan ini kami memilih TK 0 besar kelas B sebagai responden berjumlah 23 responden.
Berdasarkan Tabel 2 di atas dapat
diketahui bahwa pola mencuci tangan yang bersih dan benar hanya 6 anak (26,0%),
sebaliknya dengan kebiasaan tidak baik sebanyak 17 anak (74,0%). Dari data di
atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar anak-anak di TK ABA 48 Semarang
belum mengetahui tata cara mencuci tangan sebagaimana tata aturan Badan
Kesehatan Dunia (WHO), juga dapat juga dipahami bahwa anak-anak seusia ini
belum mengetahui pentingnya cuci tangan dan berkebiasaan senang cuci tangan
pakai sabun dengan 6 (enam) langkah sebagaimana telah di jelaskan di awal.
Juga dari tabel di atas dapat
diketahui bahwa kebiasaan mencuci tangan sudah menjadi tradisi atau habbit di
Kalangan anak-anak usia dini, namun problemnya ada pada kebiasaan yang baik
atau good habbit ini belum sesuai tata kesehatan, jika ini tidak diberikan
penyuluhan, maka akan menjadi kebiasaan yang kurang baik yakni hanya gemar cuci
tangan akan tetapi tidak sesuai standar kesehatan, dan sangat mungkin setelah
cuci tangan, kuman masih menempel.
Berdasarkan Tabel 3 di atas dapat
diketahui bahwa sebelum dilakukannya penyampaian materi terdapat 74,0% anak
yang belum mengetahui cara mencuci tangan sesuai protokol WHO, maka setelah
dilakukan penyuluhan dengan media video pembelajaran tata cara cuci tangan
sesuai standar serta praktik dengan media air mengalir maka mengalami
peningkatan yang cukup signifikan yakni sebanyak 56,5% anak telah mengetahui
dan dapat mempraktikkan teknis mencuci tangan sesuai tata aturan yang benar.
Kenaikan prosentasi pengetahuan
anak-anak ini dapat disebabakan oleh media yang digunakan dalam penyuluhan ini.
Yakni dengan video pembelajaran dan praktik langsung dengan air mengalir. Variasi
inilah yang menjadi factor meningkatnya pemahaman terhadap materi mencuci
tangan ini. Dari tabel 3 di atas juga dapat dijelaskan bahwa pembiasaan
berperilaku sehat dengan mencuci tangan pada anak usia dini nampaknya menjadi
pekerjaan rumah semua pihak utamanya orang tua, cara paling efektif adalah
dengan mempraktikkan langsung di rumah dengan air mengalir. Bagi keluarga
muslim wudzu lima sebelum shalat lima waktu sudah lebih dari cukup untuk
memberikan pembiasaan pada anak-anak tentang mencuci tangan itu amat penting.
Barangkali yang perlu ditambahkan adalah saat wudzu sangatlah baik menggunakan
sabun.
Rabu, 19 Januari 2022
PENGARUH PEMBERIAN PROMOSI KESEHATAN TERHADAP PENGETAHUAN IBU TENTANG PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS PADA ANAK PRASEKOLAH USIA 3-5
Abstrak
Usia prasekolah merupakan
periode perkembangan yangcepat
terjadinya perubahan dalam berbagaiaspek pembentukan
kualitas sumber daya
manusia yang optimal
sangat tergantung dari proses tumbuh kembang pada usia
dini.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Pengaruh Pemberian Promosi Kesehatan
Terhadap Pengetahuan Ibu
Tentang Perkembangan Motorik
Halus Pada Anak Prasekolah Usia
3-5 Tahun di
Kelurahan Belian Kota
Batam Tahun 2016. Penelitian
ini dilakukan bulan Juni –Juli
2016 dengan100 responden yang diambil
secara purposivesampling.Rancangan penelitian adalah pretest –posttest group
designdengan metode penelitian experiment.Analisa data menggunakan Uji T-testyang sebelumnya
di uji Normalitas Kolmogrov Smirnov.Hasil
penelitian menunjukkan terjadi peningkatan sebesar
6.72 dengan nilai p-value0.001 <0.05
didapatkan nilai rerata Pengetahuan
sebelum pemberian informasi
sebesar 16.04±1.825 dan
setelah sebesar
22.76±1.640. Sehingga dapat
disimpulkan ada pengaruh
pemberian informasi terhadap
pengetahuan ibu tentang
perkembangan motorik halus
pada anak prasekolah
usia 3-5 tahun. Diharapkan ibu lebih memerhatikan perkembangan motorik
halus, agar terpantau tumbuh kembangnya.Kata Kunci: Ibu,Perkembangan motorik
halus,Pengetahuan
PENDAHULUAN
Perkembangan motorik sangat
berkaitan erat dengan
kegiatan fisik. Motorik merupakan pengendalian gerakan tubuh
melalui kegiatan yang
terkoordinir antara susunan
saraf, otak dan spinal cord, yang harus dicapai
anak adalah motorik
halus yang akan merangsang kelenturan otot-otot
kecil pada anak adalah
motorik halus yang
akan merangsang kelenturan otot-otot
kecil pada anak untuk menyiapkan
pendidikan selanjutnya.Adapun faktor-faktor yang menghambat perkembangan
motorik meliputi tingkat pengetahuan
ibu yang kurang,
adanya ketegangan hubungan ibu
anak, kondisi ibu yang kurang menyenangkan selama
kehamilan, trauma di kepala
akibat kelahiran yang
sulit, IQdi bawah normal,
perlindungan yang berlebihan atau
kelahiran sebelum waktunya, gizi yang
kurang setelah lahir,
kurangnya rangsangan, dorongan dan kesempatan menggerakan semua
bagian tubuh akan
dapat memperlambat
perkembangan kemampuan motorik
anak.1Berdasarkan hasil wawancara
8 orang ibu tentang
perkembangan motorik halus
pada anak hanya 1 orang
ibu yang mengerti pengertian perkembangan motorik
halus.Populasi dalam penelitian
ini adalah seluruh ibu
yang mempunyai anak
prasekolah usia 3-5 Tahun
kelurahan Belian Kota
Batam yang diperoleh dari pengolahan data dari Dinas Kependudukan Kota
Batam yang meliputi anak prasekolah usia 3-5 Tahun
dengan jumlah 2.909
anak.Berdasarkan hasil data
yang diperoleh dari Kelurahan
Belian Batam Kota, terdapat 54
RW. Maka dari
itu penulis akan melakukan penelitian di Kelurahan
Belian.Berdasarkan latar belakang
diatas, maka penulis tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pemberian Promosi Kesehatan
Terhadap Pengetahuan Ibu Tentang
Perkembangan Motorik Halus
Pada Anak Prasekolah Usia 3-5 Tahun”.
TUJUAN PENELITIAN
Untuk mengetahui pengaruh
pemberian promosi kesehatan terhadap pengeahuan ibu tentang perkembangan
motorik halus pada
anak usia prasekolah
usia 3-5 tahun di
Kelurahan Belian Kota
Batam 2016.
METODE PENELITIAN
Desain penelitian yang akan
dilakukan merupakan metode penelitian Experiment yaitu yang bertujuan
untuk memperoleh hubungan sebab akibat
yang tegas, jelas
dan pasti antara beberapa faktor
penyebab dengan permasalahan,
dengan rancangan pre test –post
test group design, yaitu design
yang memberikan tes kemampuan
prasyaratan dan pre test sebelum perlakuan,
serta post test sesudahnya pada
kelompok dan eskperimen
HASIL PENELITIAN
Berdasarkan penelitian yang
dilakukan pada bulan Maret –April tahun 2016 terhadap 100 Responden Ibu
tentang Pengaruh
Pemberian Informasi Terhadap Pengetahuan Ibu tentang Perkembangan Motorik
Halus pada Anak Usia Prasekolah
Usia 3-5 Tahun
di Kelurahan Belian Kota Batam Tahun 2016.Berdasarkan hasil
Uji Normalitas dengan
menggunakan Uji Kolmogrov Smirnov,
diperoleh distribusi data
pemberian informasi
tentang Perkembangan Motorik Hasil pada
Anak Prasekolah Usia
3-5 Tahun Berdistribusi normal
sehingga dilanjutkan
dengan UjiT-Test. diatas Mean
sebelum diberikan informasi yaitu
16.40 dan sesudah diberikan informasi yaitu 22.67.Skor
rata-rata pengetahuan sebelum pemberian informasi
tentang perkembangan
motorik halus anak
prasekolah usia 3-5
tahun pada Ibu adalah 19.04 dari total skor 27.Skor rata-rata pengetahuan
sebelum pemberian informasi
tentang perkembangan
motorik halus anak
prasekolah usia 3-5
tahun pada Ibu adalah 22.76 dari total skor 27.Skor rata-rata pengetahuan
sebelum pemberian
informasi 16.04 dan
sesudah diberikan informasi 22.76, sehingga mengalami peningkatan
6.72. Hasil analisa lebih lanjut
didapatkan nilai
p-value0.001 < 0.05 yang
berarti bahwa ada
perbedaan yang signifikan antara
rata-rata pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan informasi.
PEMBAHASAN
Berdasarkan Hasil
penelitian yang telah dilakukan
pada 100 responden
dan telah dilakukan pengolahan
data hasil penelitian pada tabel
5.4 diketahui rata-rata
pengetahuan ibu sebelum diberikan
informasi adalah 16.04 dan
nilai rata-rata pengetahuan
ibu sesudah diberikan informasi
adalah 22.76 sehingga rata-rata pengetahuan ibu
sebelum dan seseudah diberikan
informasi mengalami
peningkatan sebesar 6.72.
dari hasil Uji Bivariatedengan menggunakan
T-Testdidapatkan nilaip-value0.001 <
0.05 dengan demikan Ho
ditolak. Uji Normalitas
data dengan menggunakan Uji Non-Parametricyaitu Uji Kolmogorov Smirnovdidapatkan nilai p
> 0.05 yang
berarti pengetahuan ibu sebelum
dan sesudah pemberian
informasi yang diuji terdistribusi Normal,
dengan demikan dapat dilanjutkan dengan Uji T-Test.Peneliti membandingkan
pengetahuan responden
sebelum dan sesudah
dilakukan pemberian informasi dalam
satu kelompok intervensi dalam
penelitian ini. Menurut Notoadmodjo (2010), pengetahuan
adalah hasil penginderaan
manusia, atau hasil
tahu seseorang terhadap objek
melalui indera yang dimilikinya (mata,
hidung, telinga, dan
sebagainya).Dari hasil penelitian yang dilakukan sebelum diberikan informasi
tentang perkembangan motorik halus
pada anak prasekolah usia 3-5
tahun memiliki pengetahuan yang cukup. Peningkatan pengetahuan
yang terjadi pada Ibu
dikarenakan dalam penelitian
ini dilakukan penyuluhan tentang materi penelitian, yang
dimana materi penyuluhan adalah kebutuhan Ibu yang
memiliki anak usia Prasekolah
mengenai perkembangan motorik halus. Dalam penyampaian penyuluhan dilakukan dengan
metode ceramah dan
Tanya jawab sehingga dapat mengembangkan komunikasi dua
arah yang dilakukan
oleh peneliti dengan harapan
dapat meningkatkan pengetahuan
ibu.Penyuluhan kesehatan telah
dilakukan dengan tujuan dapat mengembangkan pengetahuan ibu
dan rasa keingintahuan
serta pemantauan terhadap tumbuh
kembang anak-anaknya. Sehingga,
tidak hanya ibu saja namun petugas
kesehatan juga ikut
dalam proses pembelajaran ini.
Sebagaimana diketahui, pengetahuan seseorang
dapat bertambah lebih dalam atau luas jika terus digali dan
ditambah. Memperoleh pengetahuan dapat
dilakukan dengan banyak cara seperti salah satunya yaitu mencari informasi
melalui website kesehatan, majalah kesehatan,
buku kesehatan brosur-brosur yang
terdapat di fasilitas
kesehatan. Selain informasi pengalaman
diri sendiri dan orang
lain juga sangat
mempengaruhi tingkat
pengetahuan seseorang. Sehingga,
bertukar pikiran dengan tetangga, saudara
atau masyarakat sekitar itu sangat penting dilakukan. Menurut Notoadmodjo 2 faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
seseorang yaitu pendidikan, usia,
pengalaman, ekonomi, paparan media
massa, dan hubungan
sosial. Berdasarkan teori tersebut
dapat diketahui bahwa pentingnya
informasi sehingga dapat munculnya pengetahuan
baru tentang suatu objek.
Hal ini dapat
membentuk pola berfikir individu.Informasi yang diterima
melalui media cetak, elektronik, pendidikan, penyuluhan, buku-buku dan sebagainya akan
meningkatkan pengetahuan seseorang sehingga dapat mempengaruhi pola
berfikirnya.Teori menyebutkan bahwa
media komunikasi berperan sebagai
media pembuat publik. Maksudnya
adalah media komunikasi ini berkemampuan
untuk menciptakan publik, medefinisikan isu-isu,
memberi referensi umum.Hal ini sejalan
dengan penelitian yang telah
dilakukan oleh Yusran
(2014), mengenai Pengaruh Pendidikan Kesehatan
Terhadap Pengetahuan dan Sikap Ibu dalam Mengoptimalka Pencapaian Tumbuh
Kembang Anak Prasekolah di
Kecamatan Kartasura menunjukkan
bahwa adanya pengaruh pemberian
pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap ibu dalam
mengoptimalkan pencapaian tumbuh
kembang anak prasekolah di Kecamatan Kartasura.Dapat disimpulkan bahwa
dalam penelitian ini terdapat pengaruh antara penerimaan informasi
tentang perkembangan motorik
halus pada anak prasekolah usia 3 –5 tahun.
Hal ini sejalan
dengan pernyataan yang mengatakan bahwa pemberian informasi
dapat meningkatkan
pengetahuan seseorang dan informasi yang
diperoleh dapat dari
berbagai sumber antara lain
konseling yang diberikan oleh tenaga
kesehatan, penyuluhan kesehatan dan saling bertukar informasi
sesama ibu yang sudah mempunyai banyak
pengalaman dalam mengasuh dan
memantau perkembangan
anaknya.Dengan adanya penelitian ini diharapkan ibu
dapat lebih memantau perkembangan pada anaknya
sehingga perkembangan yang terjadi
pada anaknya terpantau dengan
baik.
DAFTAR PUSTAKA
1.Soetjiningsih, Ranuh. 2013.Tumbuhkembanganakedisi 2
2.Notoatmodjo, Soekidjo.
Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta.
Rineka Cipta. 2010.
Sumber : http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/kebidanan/article/view/644/578
Macam - Macam Perkembangan Anak Pra Sekolah
- Perkembangan Kognitif (Menurut Piaget)
Menurut Piaget, perkembangan kognitif anak usia pra sekolah menurut Piaget masih masuk pada tahap pra operasional. Tahap ini ditandai oleh adanya pemakaian kata-kata lebih awal dan memanipulasi simbol-simbol yang menggambarkan objek atau benda dan keterikatan atau hubungan diantara mereka. Tahap pra-operasional ini juga ditandai oleh beberapa hal, antara lain: egosentrisme, ketidak matangan pikiran/ide/gagasan tentang sebab-sebab dunia di fisik, kebingungan antara simbol dan objek yang mereka wakili, kemampuan untuk fokus pada suatu dimensi pada satu waktu dan kebingungan tentang identitas orang dan objek.
- Perkembangan Bahasa usia Pra sekolah
1. Anak usia 3 tahun dapat menyatakan 900 kata, meggunakan tiga sampai empat kalimat dan bicara dengan tidak putus-putusnya (ceriwis).
2. Anak usia 4 tahun dapat menyatakan 1500 kata, menceritakan ceita yang berlebihan dan menyampaikan lagu sederhana (ini merupakan usia puncak untuk menanyakan ‘mengapa’).
3. Anak usia 5 tahun dapat mengatakan 2100 kata, mengetahui empat warna atau lebih, nama-nama hari dalam semiggu dan nama bulan.
- Perkembangan Psikososial (Menurut Erikson)
Menurut erikson, anak usia pra sekolah berada pada tahap ke-3: inisiatif vs kesalahan. Tahap ini dialami pada anak saat usia 4-5 tahun (preschool age). Antara usia 3 dan 6 tahun, anak menghaapi krisis psikososial dimana erikson mengistilakannya sebagai ‘inisiatif melawan rasa bersalah’ (initiative versus guilt). Pada usia ini, anak secara normal telah menguasai rasa otonomi dan memindahkan untuk menguasai rasa inisiatif. Anak pra sekolah adalah seorang pembelajar yang energik, antusiasme dan pengganggu dengan imajinasi yang aktif. Perkembangan rasa bersalah terjadi pada waktu anak dibuat merasa imajinasi dan aktifitasnya tidak dapat diterima. Anak pra sekolah mulai menggunakan lasana sederhana dan dapat bertoleransi terhadap keterlambatan pemuasan dalam periode yang lama (Dewi, 2015).
- Perkembangan Moral (Menurut Kohlberg)
Menurut (Dewi, 2015) anak pra sekolah berada pada tahap pre konvensional pada tahap perkembangan moral yang berlangsung sampai usia 10 tahun. Pada fase ini, kesadaran ini timbul pada penekanannya pada kontrol eksternal. Standar moral anak berada pada orang lain dan ia mengobservasi mereka untuk menghindari hukuman dan mendapatkan ganjaran.
- Perkembangan Motorik
Menurut Rizki cintya dewi, 2015 perkembangan motorik kasar pada anak pra sekolah, sebagai berikut:
1. Perkembangan Motorik Halus (Fine Motor)
- Usia 3 tahun : Anak dapat menyusun ke atas 9-10 balok , Anak dapat membentuk jembatan 3 balok, Anak dapat membuat lingkaran dan silang
- Usia 4 tahun : Anak dapat melepas sepatu, Anak dapat membuat segi empat, Anak dapat menambhakna 3 bagian ke gambar stik
- Usia 5 tahun : Anak dapat mengikat tali sepatu, Anak dapat menggunakan gunting dengan baik, Anak dapat menyalin wajik an segitiga , Anak dapat menambahkan 7 sampai 9 bagian ke gambar stik, Anak dapat menuliskan beberapa huruf dan angka, dan nama pertamanya
2. Perkembangan Motorik Kasar (Gross Motor)
- Usia 3 tahun : Anak dapat menaiki sepeda roda tiga, Anak menaiki tagga menggukana kaki bergantian, Anak berdiri pada satu kaki selamanya beberapa detik, Anak melompat jauh
- Usia 4 tahun : Anak dapat meloncat, Anak dapat menagkap bola, Anak dapat menuruni tagga menggunakan kaki bergantian
- Usia 5 tahun : Anak dapt meloncat
Pengenalan Dasar Anak Pra sekolah
Hi bunda, bagaimana kabarnya hari ini?
Perkenalkan nama saya Maylinda saya seorang bidan, ini adalah blog kesehatan pertama saya. Di sini saya akan mengajak bunda untuk bersama - sama belajar tentang ilmu - ilmu kesehatan seputar Anak Pra Sekolah. Sebelum masuk ke topik inti alangkah baiknya kita mengenal pengertian anak usia pra sekolah, dimulai dari usia berapa anak pra sekolah? dan ciri ciri umum anak usia pra sekolah.
✅ Pengertian
Anak usia prasekolah Anak usia prasekolah adalah anak yang berusia antara nol sampai enam tahun. Mereka biasanya mengikuti program preshcool. Di Indonesia untuk usia 4- 6 tahun biasanya engikuti program Taman Kanak-kanak (Dewi, 2015).
✅ Ciri Umum Usia Pra Sekolah
Menurut (Dewi, 2015) mengemukakan ciri-ciri anak usia pra sekolah meliputi aspek fisik, sosial, emosi, dan kognitif anak.
1. Ciri fisik anak usia pra sekolah Anak usia pra sekolah umumnya sangat aktif. Mereka telah memiliki penguasaan terhadap tubuhnya dan sangat menyukai kegiatan yang dilakukan sendiri. Setelah anak melakukan berbagai kegiatan, anak membutuhkan istirahat yang cukup. Otot-otot besar pada pada anak usia sekolah lebih berkembang dari kontrol terhadap jari dan tangan. Anak masih sering mengalami kesulitan apabila harus memfokuskan pandangannya pada objek-objek yang kecil ukurannya, itulah sebabnya kordinasi tangan dan mata masih kurang sempurna. Rata-rata kenaikan berat badan per tahun sekitar 16,7-18,7 kg dan tiggi badan sekitar 103-11 cm. Mulai terjadi erupsi gigi permanen.
2. Anak sosial anak usia pra sekolah Anak usia pra sekolah biasanya mudah bersosialisasi engan orang sekitarnya. Biasanya mereka mempunyai sahabat yang berjenis kelamin sama. Kelompok bermainnya cenderung kecil dan tidak terlalu terorganisasi secara baik, oleh karena itu kelompok tersebut cepat berganti-ganti. Anak menjadi seangat mandiri agresif secara fisik dan verbal, bermain secara asosiatif, dan mulai mengeksplorasi seksualitas.
3. Ciri emosional anak usia pra sekolah Anak cenderung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap sering marah dan iri hati sering diperlihatkan.
4. Ciri kognitif anak usia pra sekolah Anak usia pra sekolah umumnya telah terampil dalam berbahasa. Sebagian besar dari mereka sering bicara, khususnya dalam kelompoknya. Sebaliknya anak diberi kesempatan untuk berbicara. Sebagian dari mereka perlu dilatih untuk menjadi pendengar yang baik.
Sumber : http://repository.um-surabaya.ac.id/