Postingan Populer

Postingan Terbaru

Modul Bahan Ajar Asuhan Kebidanan Bayi, Balita dan Anak Pra Sekolah

 

Kamis, 20 Januari 2022

Modul Bahan Ajar Asuhan Kebidanan Bayi, Balita dan Anak Pra Sekolah

 

Pembiasaan Cuci Tangan yang Baik dan Benar pada Siswa Taman Kanak-Kanak (TK) di Semarang



Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk memberi penyuluhan kepada anak-anak TK ABA 48 Semarang agar memiliki cuci tangan yang sehat dan bersih. Metode yang dilakukan melalui (1) penyuluhan/ceramah, (2) video pembelajaran, (3) praktik langsung. Responden sebanyak 23 anak. Didapatkan hasil 74,0% bahwa anak-anak tidak terbiasa cuci tangan sesuai protokol kesehatan dan 26 % yang sesuai standar kesehatan. Setelah dilakukan penyuluhan dengan tiga metode terdapat perubahan pengetahuan dan sikap dalam mencuci tangan yakni yang semula 26 % meningkat menjadi 56,5%. Kesimpulannya, pembiasaan mencuci tangan sesuai standar WHO dapat berhasil dengan jika melalui tiga langkah, cermah, alat bantu pembelajaran audio visual dan praktik langsung dengan air mengalir. Kata kunci: hidup bersih dan sehat, cuci tangan yang benar, penyuluhan, audio visual, air mengalir.

Pendahuluan

Sejak dunia dihebohkan dengan munculnya wabah covid-19 yang berawal dari Wuhan China pada Desember 2019, hingga kini virus ini masih menjadi pandemi global. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) Secara statistik per 17 Mei 2020 terdapat 4.535.731 (empat juta lima ratus tiga puluh lima ribu tujuh ratus tiga puluh satu) kasus positif Covid-19 dan sebanyak 307.537 (tiga ratus ribu lima ratustiga puluh tujuh) meninggal dunia di seluruh dunia (www.covid19.who.int) . Ini menandakan bahwa penyebaran virus corona ini merupakan pandemi global yang amat masif. Kini semua orang tertuju pada upaya pencegahan dari terjangkitnya virus yang hingga kini belum ada anti-virusnya. Salah satu strateginya adalah adalah dengan mencuci tangan sesuai aturan kesehatan berdasarkan protokol WHO.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 3 Tahun 2014 (2014: 4) mencuci tangan yang benar adalah salah satu unsur dari tiga pilar pembangunan Indonesia bidang kesehatan yakni berpola hidup sehat. Sedangkan pilar yang lain adalah pengkondisian lingkungan sehat serta penyediaan layanan kesehatan yang representatif dan terjangkau semua kalangan. Ihtiar untuk mensosialisasikan bagaimana tata cara agar anak-anak didik pada sekolah TK gemar membersihkan tangan adalah sebuah langkah yang amat penting. Menurut Megawati, dkk (2018: 40) pada usia ini, anak-anak belum terbentuk system imun dengan baik sehingga mudah tertular penyakit. Langkah kongkrit dari usaha ini adalah berupa penyuluhan atau pemberian informasi pengetahuan (transfer of knowledge), pembiasaan yang baik (good habit) sejak dini disertai pendampingan atau praktik langsung dengan video pembelajaran. Langkah ini adalah sebuah keniscayaan guna menghadang agar covid-19 tak makin meluas. Tujuan yang ingin dicapai dari penyuluhan cuci tangan yang baik dan benar ini adalah para siswa Taman Kanakkanak (TK) dapat memahami tata cara, dan dapat mempraktikkan bagaimana cuci tangan yang baik dan benar. Diharapkan setelah pelaksanaan dari program di atas adalah terdapat perubahan perilaku di masyarakat, utamanya siswa-siwi agar mereka gemar mencuci tangan sesering mungkin dengan baik dan benar. Sebagaimana telah menjadi pengetahuan umum (well-known) tangan adalah anggota badan yang kerap membawa dan menularkan bibit penyakit. Bahkan penyebaran covid-19 ini juga salah satunya melalui tangan. Jika terkontaminasi dengan penderita, maka tangan yang telah terkontaminasi akan menyentuh hidung, mata dan mulut. Dari tiga aera ini, maka covid-19 akan masuk ke organ paru dan kemudian virus akan merusak sistem paru yang pada akhirnya membuat seseorang sesak nafas dan jika system imun nya rendah, maka akan menyebabkan gagal pernafasan. (www.alodokter.com). Mencuci tangan dengan sabun menurut WHO adalah cara yang tepat sesuai kesehatan (www.who.int) , hal ini menurut Riris (2009: 2-3) karena sabun dapat membunuh kuman atau virus yang menempel di tangan. Maka usaha yang paling sederhana untuk menegakkan pilar hidup sehat adalah dengan gemar cuci tangan. Usaha yang oleh masyarakat dianggap sepele ini ternyata dapat ber kontribusi penting pada upaya pencegehan covid-19 (Ibrahim, dkk, 2020: 192). Tangan adalah bagian tubuh kita yang paling banyak tercemar kotoran dan bibit penyakit. Ketika memegang sesuatu, dan berjabat tangan, tentu ada bibit penyakit yang melekat pada kulit tangan kita. Telur cacing, virus, kuman dan parasit yang mencemari tangan, akan menpel pada orang lain yang kita ajak berjabat tangan atau bahkan saat kita makan dengan tangan yang tidak bersih, kotoran tertelan dan sudah barang tentu akan menggangu pencernaan. (Retno dkk, 2013: 123). Selain bertransmisi melalui tangan, kotoran, penyakit serta virus pada umumnya juga dapat melekat pada barangbarang lain seperti gagang pintu, uang, alatalat makan, juga permainan. Ketika alat-alat tadi dipegang dan kemudian tangan tidak dibersihakn maka akan sangat mungkin kita dapat tertular penyakit termasuk virus. (Kushartanti, 2012: 2-3). Maka mencuci tangan dengan benar dan sesuai kesehatan amatlah penting agar jenis virus dan penyakit tidak masuk ke dalam tubuh manusia.

Metode

Penelitian ini dilaksanakan dengan metode penyuluhan atau ceramah serta praktik dengan air mengalir. Dilaksanakan pada tanggal 9 Desember 2019 dan berlokasi di TK ABA 48 Semarang. Evaluasi juga dilakukan untuk mengukur tingkat pengetahuan dan efektifitas dari metode yang dipergunakan. Cara yang dipakai adalah berupa pemberian pertanyaan secara lisan dengan model tertutup. Teknisnya responden diberi pertanyaan sebanyak dua kali yakni sebelum dan sesudah penyuluhan berlangsung seputar pengetahuan tentang tata cara mencuci tangan sebagaimana standar WHO. Dari sinilah dapat disimpulkan apakah penyuluhan ini memiliki dampak signifikan atau tidak. Guna meningkatkan efektifitas dan daya akurasi, penyuluhan juga mempergunakan media pembelajaran audio visual tentang prosedur cuci tangan yang sehat. Penggunaan media audio visual menurut Asmara (2015) akan membuat pembelajaran lebih berhasil bila dibandingkan dengan tidak menggunakan audio visual Senada dengan Hamdani, Cheppy Riyana (2007: 8-11) juga berpendapat sama bahwa bahwa strategsinya video pembelajaran karena berisi pengetahuan yang cukup lengkap dan mudah untuk dicerna peserta didik. Pada proses penyuluhan dan praktik, peserta yang terdiri dari para anakanak TK ini akan dituntun untuk mempraktiktikkan 6 (enam) langkah cuci tangan yang baik dan benar menurut WHO. Langkah dimaksud adalah pertama telapak tangan digosok dengan sabun, kedua menggosok punggung telapak tangan secara bergantian kanan dan kiri, ketiga mensela-selai jari jemari juga dengan sabun, keempat ujung jari dicuci dengan bersih, kelima menggosok dan memutar ibu jari secara bergantian, dan yang keenam adalah letakkan semua ujung jari pada telapak tangan dan bersihkan dengan digosok secara perlahan menggunakan air mengalir. (www.who.int).

Hasil dan Pembahasan

Penyuluhan ini dilakukan di TK ABA 48 yang terletak di Jl. Zebra Tengah No.74, Pedurungan Kidul, Kec. Pedurungan, Kota Semarang. TK ini terbagi dalam dua kelas yaitu TK 0 besar yang terdiri dari kelas A dan B, dan TK 0 kecil yang terdiri dari Kelas A dan B. Pada penyuluhan ini kami memilih TK 0 besar kelas B sebagai responden berjumlah 23 responden. 

Berdasarkan Tabel 1, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 15 anak (65,2%) dan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 8 anak (34,8%).


Berdasarkan Tabel 2 di atas dapat diketahui bahwa pola mencuci tangan yang bersih dan benar hanya 6 anak (26,0%), sebaliknya dengan kebiasaan tidak baik sebanyak 17 anak (74,0%). Dari data di atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar anak-anak di TK ABA 48 Semarang belum mengetahui tata cara mencuci tangan sebagaimana tata aturan Badan Kesehatan Dunia (WHO), juga dapat juga dipahami bahwa anak-anak seusia ini belum mengetahui pentingnya cuci tangan dan berkebiasaan senang cuci tangan pakai sabun dengan 6 (enam) langkah sebagaimana telah di jelaskan di awal.

Juga dari tabel di atas dapat diketahui bahwa kebiasaan mencuci tangan sudah menjadi tradisi atau habbit di Kalangan anak-anak usia dini, namun problemnya ada pada kebiasaan yang baik atau good habbit ini belum sesuai tata kesehatan, jika ini tidak diberikan penyuluhan, maka akan menjadi kebiasaan yang kurang baik yakni hanya gemar cuci tangan akan tetapi tidak sesuai standar kesehatan, dan sangat mungkin setelah cuci tangan, kuman masih menempel.

Pembiasaan cuci tangan sesuai standar kesehatan sesungguhnya dapat dilakukan dengan berbagai langkah. Selain melalui pembelajaran di sekolah oleh guru, juga dapat dilakukan oleh orang tua saat anak-anak sudah di rumah. Peran orang tua sangatlah penting, karena menurut Khalid Ahmad Syantut (2018: 8) orang tua adalah madrasah atau sekolah juga bagi anak-anak jika mereka sudah sampai di rumah. Karena orang tua adalah laksanaka sekolah, maka orang tua dapat juga melaksanakan transfer of knowledge (menyampaikan pengetahuan) selain tentu saja transfer of value (suri tauladan yang baik). Dari konsep ini orang tua amatlah memiliki peran yang sangat penting juga dalam memberikanpembelajaran sekaligus praktik menjaga kebersihan tangan sesuai langkah-langkah kesehatan. Selain itu, mereka juga memili peran penting dalam mensuasanakan kehidupan kesehatan berupa bersih tangan dari bibit penyakit yang sehat dan benar di keluarga sejak dini. 

Jika ini dapat dilakukan maka anak akan memiliki pengetahuan tinggi tentang cuci tangan yang sehat dan benar. Namun orang tua kadang kurang menyadari atau bahkan belum mengetahui tentang bagaimana tata cara mencuci tangan yang sehat dan benar. Kondisi ini sudah barang tentu akan menjadi faktor penting bahkan dapat dikategorikan sebagai sikap yang tidak mendukung kebiasaan mencuci tangan sesuai standar kesehatan. (Riyanti, 2008). Menyadarkan orang tua juga menjadi pekerjaan yang tidak mudah membutuhkan waktu dan keseriusan dari beragai pihak. 


Berdasarkan Tabel 3 di atas dapat diketahui bahwa sebelum dilakukannya penyampaian materi terdapat 74,0% anak yang belum mengetahui cara mencuci tangan sesuai protokol WHO, maka setelah dilakukan penyuluhan dengan media video pembelajaran tata cara cuci tangan sesuai standar serta praktik dengan media air mengalir maka mengalami peningkatan yang cukup signifikan yakni sebanyak 56,5% anak telah mengetahui dan dapat mempraktikkan teknis mencuci tangan sesuai tata aturan yang benar.

Kenaikan prosentasi pengetahuan anak-anak ini dapat disebabakan oleh media yang digunakan dalam penyuluhan ini. Yakni dengan video pembelajaran dan praktik langsung dengan air mengalir. Variasi inilah yang menjadi factor meningkatnya pemahaman terhadap materi mencuci tangan ini. Dari tabel 3 di atas juga dapat dijelaskan bahwa pembiasaan berperilaku sehat dengan mencuci tangan pada anak usia dini nampaknya menjadi pekerjaan rumah semua pihak utamanya orang tua, cara paling efektif adalah dengan mempraktikkan langsung di rumah dengan air mengalir. Bagi keluarga muslim wudzu lima sebelum shalat lima waktu sudah lebih dari cukup untuk memberikan pembiasaan pada anak-anak tentang mencuci tangan itu amat penting. Barangkali yang perlu ditambahkan adalah saat wudzu sangatlah baik menggunakan sabun.

Kementrian Kesehatan RI (Depkes 2007) menyatakan bahwa anak-anak usia dini baik pra sekolah (TK) maupu usia sekolah dasar (SD/MI) adalah sasarn utama dalam implementasi hidup sehat. Hal ini karena anak-anak seuisia ini masih sangat aktif dan berkumpul, bermain bersama teman-temannya, tak jarang anakanak ini abai terhadap menjaga kebersihan badan utamanya mencuci tangan. Maka tak jarang mereka sangat rentan terhadap penyakit. Pembiasaan berpola hidup sehat harus terus digalakkan pada anak usia dini. Baik itu cuci tangan dengan sabun, memotong kuku atau menjaga lingkungan sekitar. 

Kesimpulan 

Sebagian besar anak-anak usia dini khususnya di TK ABA 48 belum berperilaku benar dan sehat dalam mencuci tangan yakni sebesar (74,0%), dan hanya (26%) yang sesuai dengan standar kesehatan. Setelah dilakukan scenario langkah edukasi berupa cermah dengan media video pembelajaran dan praktik langsung, diperoleh peningkatan sebesar (56,5%) anak telah mencu tanganya dengan sabun dan air mengalir. 
Pentingnya pembiasaan menjaga kebersihan dan kesehatan fisik dengan salah satunya rutin cuci tangan dengan sabun dan air mengalir ini harus menjadi tanggungjawab bersam, baik sekolah dan juga orang tua. Diharapkan juga peran orang tua untuk memeberikan pemahaman tentang perilaku hidup bersih dan sehat dengan mengajarkan anak bagaimana cara mencuci tangan yang baik dan benar.

Sumber : file:///C:/Users/Hp/Downloads/5852-13763-1-PB.pdf

Rabu, 19 Januari 2022

PENGARUH PEMBERIAN PROMOSI KESEHATAN TERHADAP PENGETAHUAN IBU TENTANG PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS PADA ANAK PRASEKOLAH USIA 3-5



Abstrak

Usia prasekolah  merupakan  periode  perkembangan  yangcepat  terjadinya  perubahan  dalam berbagaiaspek  pembentukan  kualitas  sumber  daya  manusia  yang  optimal  sangat  tergantung  dari proses tumbuh kembang pada usia dini.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Pengaruh Pemberian Promosi  Kesehatan  Terhadap  Pengetahuan  Ibu  Tentang  Perkembangan  Motorik  Halus  Pada  Anak Prasekolah  Usia  3-5  Tahun  di  Kelurahan  Belian  Kota  Batam  Tahun  2016.  Penelitian  ini  dilakukan bulan Juni –Juli 2016  dengan100 responden yang  diambil  secara purposivesampling.Rancangan penelitian  adalah pretest –posttest  group  designdengan  metode  penelitian experiment.Analisa  data menggunakan  Uji T-testyang  sebelumnya  di  uji  Normalitas Kolmogrov  Smirnov.Hasil  penelitian menunjukkan terjadi peningkatan  sebesar  6.72  dengan  nilai p-value0.001  <0.05  didapatkan  nilai rerata   Pengetahuan   sebelum   pemberian   informasi   sebesar   16.04±1.825   dan   setelah   sebesar 22.76±1.640.  Sehingga  dapat  disimpulkan  ada  pengaruh  pemberian  informasi  terhadap  pengetahuan ibu tentang  perkembangan  motorik  halus  pada  anak  prasekolah  usia  3-5  tahun. Diharapkan  ibu lebih memerhatikan perkembangan motorik halus, agar terpantau tumbuh kembangnya.Kata Kunci: Ibu,Perkembangan motorik halus,Pengetahuan

PENDAHULUAN

Perkembangan motorik sangat berkaitan  erat  dengan  kegiatan  fisik.  Motorik merupakan pengendalian gerakan tubuh melalui   kegiatan   yang   terkoordinir   antara susunan saraf, otak dan spinal cord, yang harus dicapai  anak  adalah  motorik  halus  yang  akan merangsang kelenturan   otot-otot   kecil   pada anak    adalah    motorik    halus    yang    akan merangsang   kelenturan   otot-otot   kecil   pada anak untuk menyiapkan pendidikan selanjutnya.Adapun faktor-faktor yang menghambat  perkembangan  motorik  meliputi tingkat  pengetahuan  ibu  yang  kurang,  adanya ketegangan  hubungan  ibu  anak,  kondisi  ibu yang kurang menyenangkan selama kehamilan, trauma  di  kepala  akibat  kelahiran  yang  sulit, IQdi   bawah   normal,   perlindungan   yang berlebihan  atau  kelahiran  sebelum  waktunya, gizi   yang   kurang   setelah   lahir,   kurangnya rangsangan, dorongan dan kesempatan menggerakan  semua  bagian  tubuh  akan  dapat memperlambat    perkembangan    kemampuan motorik anak.1Berdasarkan  hasil  wawancara  8  orang ibu  tentang  perkembangan  motorik  halus  pada anak   hanya   1   orang   ibu   yang   mengerti pengertian perkembangan motorik halus.Populasi  dalam  penelitian  ini  adalah seluruh  ibu  yang  mempunyai  anak  prasekolah usia  3-5  Tahun  kelurahan  Belian  Kota  Batam yang diperoleh dari pengolahan data dari Dinas Kependudukan   Kota   Batam   yang   meliputi anak prasekolah usia 3-5 Tahun dengan jumlah 2.909    anak.Berdasarkan    hasil    data    yang diperoleh  dari  Kelurahan  Belian  Batam  Kota, terdapat  54  RW.  Maka  dari  itu  penulis  akan melakukan penelitian di Kelurahan Belian.Berdasarkan    latar    belakang    diatas, maka    penulis tertarik    untuk    melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pemberian Promosi Kesehatan Terhadap Pengetahuan Ibu Tentang  Perkembangan  Motorik  Halus  Pada Anak Prasekolah Usia 3-5 Tahun”.

TUJUAN PENELITIAN

Untuk mengetahui pengaruh pemberian promosi kesehatan terhadap pengeahuan ibu tentang perkembangan motorik  halus  pada  anak  usia  prasekolah  usia 3-5  tahun  di  Kelurahan  Belian  Kota  Batam 2016.

METODE PENELITIAN

Desain penelitian yang akan dilakukan merupakan metode penelitian Experiment yaitu yang  bertujuan  untuk  memperoleh  hubungan sebab  akibat  yang  tegas,  jelas  dan  pasti antara beberapa faktor penyebab dengan permasalahan,  dengan  rancangan pre  test –post   test   group   design, yaitu   design   yang memberikan  tes  kemampuan  prasyaratan  dan pre   test sebelum   perlakuan,   serta post  test sesudahnya pada kelompok dan eskperimen

HASIL PENELITIAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada bulan Maret –April tahun 2016 terhadap 100     Responden     Ibu     tentang     Pengaruh Pemberian   Informasi Terhadap   Pengetahuan Ibu tentang Perkembangan Motorik Halus pada Anak   Usia   Prasekolah   Usia   3-5   Tahun   di Kelurahan Belian Kota Batam Tahun 2016.Berdasarkan    hasil    Uji    Normalitas dengan menggunakan Uji Kolmogrov Smirnov,  diperoleh  distribusi  data  pemberian informasi    tentang    Perkembangan    Motorik Hasil  pada  Anak  Prasekolah  Usia  3-5  Tahun Berdistribusi    normal    sehingga    dilanjutkan dengan   UjiT-Test. diatas   Mean   sebelum diberikan  informasi  yaitu  16.40  dan  sesudah diberikan informasi yaitu 22.67.Skor rata-rata   pengetahuan   sebelum pemberian   informasi   tentang   perkembangan motorik  halus  anak  prasekolah  usia  3-5  tahun pada Ibu adalah 19.04 dari total skor 27.Skor rata-rata   pengetahuan   sebelum pemberian informasi   tentang   perkembangan motorik  halus  anak  prasekolah  usia  3-5  tahun pada Ibu adalah 22.76 dari total skor 27.Skor rata-rata   pengetahuan   sebelum pemberian    informasi    16.04    dan    sesudah diberikan informasi 22.76, sehingga mengalami   peningkatan   6.72.   Hasil   analisa lebih  lanjut  didapatkan  nilai p-value0.001  < 0.05  yang  berarti  bahwa  ada  perbedaan  yang signifikan antara rata-rata pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan informasi.

PEMBAHASAN

Berdasarkan    Hasil    penelitian    yang telah  dilakukan  pada  100  responden  dan  telah dilakukan   pengolahan   data   hasil   penelitian pada  tabel  5.4  diketahui  rata-rata  pengetahuan ibu  sebelum  diberikan  informasi  adalah  16.04 dan  nilai  rata-rata  pengetahuan  ibu  sesudah diberikan   informasi   adalah   22.76   sehingga rata-rata     pengetahuan     ibu     sebelum     dan seseudah    diberikan    informasi    mengalami peningkatan    sebesar    6.72.    dari    hasil    Uji Bivariatedengan menggunakan T-Testdidapatkan  nilaip-value0.001  <  0.05  dengan demikan   Ho   ditolak.   Uji   Normalitas   data dengan    menggunakan    Uji Non-Parametricyaitu   Uji Kolmogorov   Smirnovdidapatkan nilai  p  >  0.05  yang  berarti  pengetahuan  ibu sebelum   dan   sesudah   pemberian   informasi yang    diuji    terdistribusi    Normal,    dengan demikan dapat dilanjutkan dengan Uji T-Test.Peneliti  membandingkan  pengetahuan responden   sebelum   dan   sesudah   dilakukan pemberian   informasi   dalam   satu   kelompok intervensi    dalam    penelitian    ini.    Menurut Notoadmodjo (2010), pengetahuan adalah hasil penginderaan     manusia,     atau     hasil     tahu seseorang  terhadap  objek  melalui  indera  yang dimilikinya    (mata,    hidung,    telinga,    dan sebagainya).Dari    hasil    penelitian    yang dilakukan sebelum diberikan informasi tentang perkembangan    motorik    halus    pada    anak prasekolah usia 3-5 tahun memiliki pengetahuan yang cukup. Peningkatan  pengetahuan  yang  terjadi pada   Ibu   dikarenakan   dalam   penelitian   ini dilakukan penyuluhan tentang materi penelitian,   yang   dimana   materi   penyuluhan adalah kebutuhan Ibu yang memiliki anak usia Prasekolah  mengenai  perkembangan  motorik halus. Dalam penyampaian penyuluhan dilakukan  dengan  metode  ceramah  dan  Tanya jawab sehingga dapat mengembangkan komunikasi   dua   arah   yang   dilakukan   oleh peneliti  dengan  harapan  dapat  meningkatkan pengetahuan ibu.Penyuluhan  kesehatan  telah  dilakukan dengan tujuan dapat mengembangkan pengetahuan  ibu  dan  rasa  keingintahuan  serta pemantauan  terhadap  tumbuh  kembang  anak-anaknya. Sehingga, tidak hanya ibu saja namun petugas   kesehatan   juga   ikut   dalam   proses pembelajaran    ini.    Sebagaimana    diketahui, pengetahuan  seseorang  dapat  bertambah  lebih dalam atau luas jika terus digali dan ditambah. Memperoleh    pengetahuan    dapat    dilakukan dengan banyak cara seperti salah satunya yaitu mencari  informasi  melalui  website  kesehatan, majalah   kesehatan,   buku   kesehatan   brosur-brosur   yang   terdapat   di   fasilitas   kesehatan. Selain  informasi  pengalaman  diri  sendiri  dan orang  lain  juga  sangat  mempengaruhi  tingkat pengetahuan   seseorang.   Sehingga,   bertukar pikiran     dengan     tetangga,     saudara     atau masyarakat sekitar itu sangat penting dilakukan. Menurut  Notoadmodjo 2 faktor-faktor yang   mempengaruhi   pengetahuan   seseorang yaitu  pendidikan,  usia,  pengalaman,  ekonomi, paparan  media  massa,  dan    hubungan  sosial. Berdasarkan   teori   tersebut   dapat   diketahui bahwa  pentingnya  informasi  sehingga  dapat munculnya   pengetahuan   baru   tentang   suatu objek.  Hal  ini  dapat  membentuk  pola  berfikir individu.Informasi yang diterima melalui media cetak,    elektronik,    pendidikan,    penyuluhan, buku-buku dan sebagainya akan meningkatkan pengetahuan seseorang sehingga dapat mempengaruhi pola berfikirnya.Teori    menyebutkan    bahwa    media komunikasi  berperan  sebagai  media  pembuat publik.  Maksudnya  adalah  media  komunikasi ini  berkemampuan  untuk  menciptakan  publik, medefinisikan    isu-isu,    memberi    referensi umum.Hal  ini sejalan  dengan  penelitian  yang telah  dilakukan  oleh  Yusran  (2014),  mengenai Pengaruh    Pendidikan    Kesehatan    Terhadap Pengetahuan dan Sikap Ibu dalam Mengoptimalka Pencapaian Tumbuh Kembang Anak   Prasekolah   di   Kecamatan   Kartasura menunjukkan bahwa adanya pengaruh pemberian    pendidikan    kesehatan    terhadap pengetahuan dan sikap ibu dalam mengoptimalkan  pencapaian  tumbuh  kembang anak prasekolah di Kecamatan Kartasura.Dapat    disimpulkan    bahwa    dalam penelitian     ini     terdapat     pengaruh     antara penerimaan  informasi  tentang  perkembangan motorik halus pada anak prasekolah usia 3 –5 tahun.  Hal  ini  sejalan  dengan  pernyataan  yang mengatakan  bahwa pemberian  informasi  dapat meningkatkan    pengetahuan    seseorang    dan informasi  yang  diperoleh  dapat  dari  berbagai sumber  antara  lain  konseling  yang  diberikan oleh  tenaga  kesehatan,  penyuluhan  kesehatan dan saling bertukar informasi sesama ibu yang sudah  mempunyai  banyak  pengalaman  dalam mengasuh     dan     memantau     perkembangan anaknya.Dengan adanya penelitian ini diharapkan     ibu     dapat     lebih     memantau perkembangan pada anaknya sehingga perkembangan   yang   terjadi   pada   anaknya terpantau dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

1.Soetjiningsih, Ranuh.    2013.Tumbuhkembanganakedisi 2

2.Notoatmodjo, Soekidjo. Metodologi Penelitian   Kesehatan.   Jakarta.   Rineka Cipta. 2010.


Sumber : http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/kebidanan/article/view/644/578

Macam - Macam Perkembangan Anak Pra Sekolah

  • Perkembangan Kognitif (Menurut Piaget) 

Menurut Piaget, perkembangan kognitif anak usia pra sekolah menurut Piaget masih masuk pada tahap pra operasional. Tahap ini ditandai oleh adanya pemakaian kata-kata lebih awal dan memanipulasi simbol-simbol yang menggambarkan objek atau benda dan keterikatan atau hubungan diantara mereka. Tahap pra-operasional ini juga ditandai oleh beberapa hal, antara lain: egosentrisme, ketidak matangan pikiran/ide/gagasan tentang sebab-sebab dunia di fisik, kebingungan antara simbol dan objek yang mereka wakili, kemampuan untuk fokus pada suatu dimensi pada satu waktu dan kebingungan tentang identitas orang dan objek.

  • Perkembangan Bahasa usia Pra sekolah 

1. Anak usia 3 tahun dapat menyatakan 900 kata, meggunakan tiga sampai empat kalimat dan bicara dengan tidak putus-putusnya (ceriwis).

2. Anak usia 4 tahun dapat menyatakan 1500 kata, menceritakan ceita yang berlebihan dan menyampaikan lagu sederhana (ini merupakan usia puncak untuk menanyakan ‘mengapa’).

3. Anak usia 5 tahun dapat mengatakan 2100 kata, mengetahui empat warna atau lebih, nama-nama hari dalam semiggu dan nama bulan.

  • Perkembangan Psikososial (Menurut Erikson) 

Menurut erikson, anak usia pra sekolah berada pada tahap ke-3: inisiatif vs kesalahan. Tahap ini dialami pada anak saat usia 4-5 tahun (preschool age). Antara usia 3 dan 6 tahun, anak menghaapi krisis psikososial dimana erikson mengistilakannya sebagai ‘inisiatif melawan rasa bersalah’ (initiative versus guilt). Pada usia ini, anak secara normal telah menguasai rasa otonomi dan memindahkan untuk menguasai rasa inisiatif. Anak pra sekolah adalah seorang pembelajar yang energik, antusiasme dan pengganggu dengan imajinasi yang aktif. Perkembangan rasa bersalah terjadi pada waktu anak dibuat merasa imajinasi dan aktifitasnya tidak dapat diterima. Anak pra sekolah mulai menggunakan lasana sederhana dan dapat bertoleransi terhadap keterlambatan pemuasan dalam periode yang lama (Dewi, 2015). 

  • Perkembangan Moral (Menurut Kohlberg) 

Menurut (Dewi, 2015) anak pra sekolah berada pada tahap pre konvensional pada tahap perkembangan moral yang berlangsung sampai usia 10 tahun. Pada fase ini, kesadaran ini timbul pada penekanannya pada kontrol eksternal. Standar moral anak berada pada orang lain dan ia mengobservasi mereka untuk menghindari hukuman dan mendapatkan ganjaran.

  • Perkembangan Motorik 

Menurut Rizki cintya dewi, 2015 perkembangan motorik kasar pada anak pra sekolah, sebagai berikut:  

1. Perkembangan Motorik Halus (Fine Motor) 

    • Usia 3 tahun : Anak dapat menyusun ke atas 9-10 balok , Anak dapat membentuk jembatan 3 balok, Anak dapat membuat lingkaran dan silang
    • Usia 4 tahun : Anak dapat melepas sepatu, Anak dapat membuat segi empat, Anak dapat menambhakna 3 bagian ke gambar stik
    • Usia 5 tahun : Anak dapat mengikat tali sepatu, Anak dapat menggunakan gunting dengan baik, Anak dapat menyalin wajik an segitiga , Anak dapat menambahkan 7 sampai 9 bagian ke gambar stik, Anak dapat menuliskan beberapa huruf dan angka, dan nama pertamanya
2. Perkembangan Motorik Kasar (Gross Motor)

    • Usia 3 tahun :  Anak dapat menaiki sepeda roda tiga, Anak menaiki tagga menggukana kaki bergantian, Anak berdiri pada satu kaki selamanya beberapa detik, Anak melompat jauh
    • Usia 4 tahun : Anak dapat meloncat, Anak dapat menagkap bola,  Anak dapat menuruni tagga menggunakan kaki bergantian
    • Usia 5 tahun : Anak dapt meloncat
Sumber : http://repository.um-surabaya.ac.id/




Pengenalan Dasar Anak Pra sekolah

     Hi bunda, bagaimana kabarnya hari ini?

Perkenalkan nama saya Maylinda saya seorang bidan, ini adalah blog kesehatan pertama saya. Di sini saya akan mengajak bunda untuk bersama - sama belajar tentang ilmu - ilmu kesehatan seputar Anak Pra Sekolah. Sebelum masuk ke topik inti alangkah baiknya kita mengenal pengertian anak usia pra sekolah, dimulai dari usia berapa anak pra sekolah? dan ciri ciri umum anak usia pra sekolah.

Pengertian

Anak usia prasekolah Anak usia prasekolah adalah anak yang berusia antara nol sampai enam tahun. Mereka biasanya mengikuti program preshcool. Di Indonesia untuk usia 4- 6 tahun biasanya engikuti program Taman Kanak-kanak (Dewi, 2015). 

✅ Ciri Umum Usia Pra Sekolah

Menurut (Dewi, 2015) mengemukakan ciri-ciri anak usia pra sekolah meliputi aspek fisik, sosial, emosi, dan kognitif anak. 

1. Ciri fisik anak usia pra sekolah Anak usia pra sekolah umumnya sangat aktif. Mereka telah memiliki penguasaan terhadap tubuhnya dan sangat menyukai kegiatan yang dilakukan sendiri. Setelah anak melakukan berbagai kegiatan, anak membutuhkan istirahat yang cukup. Otot-otot besar pada pada anak usia sekolah lebih berkembang dari kontrol terhadap jari dan tangan. Anak masih sering mengalami kesulitan apabila harus memfokuskan pandangannya pada objek-objek yang kecil ukurannya, itulah sebabnya kordinasi tangan dan mata masih kurang sempurna. Rata-rata kenaikan berat badan per tahun sekitar 16,7-18,7 kg dan tiggi badan sekitar 103-11 cm. Mulai terjadi erupsi gigi permanen.

2. Anak sosial anak usia pra sekolah Anak usia pra sekolah biasanya mudah bersosialisasi engan orang sekitarnya. Biasanya mereka mempunyai sahabat yang berjenis kelamin sama. Kelompok bermainnya cenderung kecil dan tidak terlalu terorganisasi secara baik, oleh karena itu kelompok tersebut cepat berganti-ganti. Anak menjadi seangat mandiri agresif secara fisik dan verbal, bermain secara asosiatif, dan mulai mengeksplorasi seksualitas.

3. Ciri emosional anak usia pra sekolah Anak cenderung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap sering marah dan iri hati sering diperlihatkan.

4. Ciri kognitif anak usia pra sekolah Anak usia pra sekolah umumnya telah terampil dalam berbahasa. Sebagian besar dari mereka sering bicara, khususnya dalam kelompoknya. Sebaliknya anak diberi kesempatan untuk berbicara. Sebagian dari mereka perlu dilatih untuk menjadi pendengar yang baik.



Sumber : http://repository.um-surabaya.ac.id/